Hujan, secangkir kopi yang lekat, sejumput file bernama masa lalu, dan teras rumah kayu yang basah. Disana kita berdua membiarkan bias air membentuk pelangi.
Secangkir kopi lekat dengan aroma pandan dan rempah. Aku belajar meramu ini dari seorang perempuan di tanah tua bernama Kalimantan. Aku bertemu dengannya ketika senja dilumat pekat. Ketika perjalanannya sebagai seorang pengelana sepi bermula. Ia yang selalu sendiri dan tak pernah merasa keberatan jika harus sendiri selama perjalanannya. Karena itu aku menyebutnya Pengelana Sepi.
Perempuan itu tak lagi muda, pun tak setua aku. Rambutnya yang berwarna coklat tembaga akan berkilat-kilat jika dibelai mentari. Tubuhnya terlalu mungil untuk seorang perempuan. Juga terlalu ringkih untuk seorang pengelana. Tapi ia terlampau kuat. Karena tak pernah kedengar ia mengaduh walau kerikil melukai kaki kecilnya.
Ia sungguh tak peduli tubuhnya yang terbungkus nestapa. Namun satu hal yang kerap kali membuatnya resah adalah lentera yang bisa padam kapanpun. Iya. resah itu menjadi resah yang sama denganku. Bahkan aku menjadi lebih resah darinya.
Pertemuan itu masih lekat dalam ingatan. Begitu lekat--sorot mata tajam yang membuat aku tertunduk malu. Siapapun akan merasa sama ketika melihat kedua mata itu. Namun pada keduanya tersimpul senyum yang tanpa peduli sebuah balasan yang sama.
Saat itu juga aku jatuh cinta padanya yang kusebut seorang Pengelana Sepi.
Dan tahukah kamu—jika ada yang bertanya mengapa aku jatuh cinta padanya, jawabannya adalah bukan karena perempuan itu baik atau jawaban lain semacam itu yang menyiratkan bahwa perempuan itu orang baik—tapi justru perempuan itu berlaku apa adanya. Aku jatuh cinta pada perempuan itu, berkali-kali nyaris setiap hari. Semata-mata bukan hanya karena perempuan itu baik, melainkan kerena perempuan itulah yang membuat aku baik-baik saja.
Oh—jangan tanya apakah aku bisa bertahan. Tidak mendengar suaranya yang membuat hatiku hangat. Mungkin aku bertahan. Tapi setengah mati. Demi tuhan, aku ingin berbagi bahagia dengannya, bukan hanya mencari bahagia di perempuan itu. Seperti tentang memberi, bukan hanya tentang menerima. Dimana hati ini bertaut, perempuan itu tahu jawabannya. Mungkin saja sekarang, besok, atau besoknya lagi perempuan itu akan bertanya hal yang sama, lagi, seakan tak pernah bosan. Tanganku hanya akan mengarah pada perempuan itu, hatiku hanya akan tertaut di hatinya, dan jiwaku sudah melekat di jiwanya.
Sekuat hati aku berbisik dengan suara parau lagi sayup-sayup di telinganya.
Seringkah kau bersedih waktu gelap? Langit mengerti kalbu hatimu, ia juga menangis ketika kau termenung. Maka seberkas bintang dilahirkannya. Makin lama makin tak terhitung. Lalu kau tersenyum memandang mereka bersinar. Seakan mereka sedang tertawa menghiburmu. Bintang yang terlihat bahagia, tidak seperti kau yang selalu rapuh. Apakah tidak ada dalam benakmu? Langit jagat saja bisa tergores luka, apalagi hanya setitik bintang?
Siklus kehidupan memang begitu. Sebentar ada, sebentar hilang. Lalu ada hilang, kemudian ada. Jangan bicara terlalu banyak karena kata-kata adalah penjara—membungkam rasa—mematikan indra. Jangan melihat terlalu banyak karena mata bisa menipu, mengelabui, memanipulasi sebuah hati. Jangan mendengarkan terlalu banyak karena telinga sering salah. Suara dan distraksi mengancam. Peluk. Dekap. Rasakanlah. Letakan otakmu. Hentikan ia dari kinerjanya, sebab ada rasa yang perlu direkam.
Kita adalah dua kutub; dan perbedaan-perbedaan itulah yang membuat kita sama. Perbedaan satu-satunya tempat dimana dadaku dapat melapangkannya. Bahkan kamu pun bukanlah siapapun yang kukenal. Namun kamu yang memberiku makna keterasingan yang mampu mengubah dalam semesta benakku. Tawa dan ceriamu menggantikan bias kemunafikanku. Karena kamu adalah keyakinanku kini bahwa semua telah tertulis dan terlukis.
Aku paling suka awan, putih, lembut, dan pasti nyaman bersamanya. Tapi ternyata aku lebih suka bulan, meski selalu terlihat tertutup awan hitam di pekatnya malam tapi ia menyejukan. Aku menyadari perempuanku terlalu rapuh, walau orang-orang memandangnya indah. Tapi sesungguhnya ada sebuah luka yang tidak dapat diselami siapapun, bahkan dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa menghakiminya, kenapa ia bisa sekejam ini terhadap dirinya sendiri. Karena manusia memang tidak berhak untuk itu.
Masih selalu ada jalan untuk pulang, dan aku menanti kepulanganmu. Banyak hal yang kadang kita lupa, manusia selalu punya alasan untuk berbuat kesalahan. Tapi tuhan, punya seribu alasan untuk mengampuni. Hanya ada satu alasan kenapa aku terus berada disini, bukan karena masa laluku atau untuk sebuah kepentingan. Tapi karena kamu juga mengajarkan sebuah cinta kepadamu dan kepada tuhanmu. Cinta yang hanya ingin kamu mendapat yang terbaik.
Aku berdoa untukmu dari hatiku, dari hati yang pernah kau sentuh dan selalu ingin menyentuhmu. Semoga abadi bahagiamu, semoga tangan yang ingin kau genggam menyambutmu, semoga hati yang ingin kau peluk mencintaimu selamanya. Bahagialah dengan langit tanpa batas, karena aku tidak ada disana untuk menepuk bahumu. Namun aku berlutut untukmu, semoga tidak pernah lagi kecewa menderamu, atau jerit tangis tertahan di tenggorakanmu, dan semoga cahaya takkan pernah punah dari matamu, selamanya.
Aku bukan pelindung bagimu, namun setiap asa yang tercipta, bukanlah tombak bagiku. Aku tak pernah memaksamu untuk hinggap di sayapku, namun aku akan menuntunmu sampai ke titik terang, dimana kita akan menemukan cahaya, dimana kita bisa bernafas lega. Dan saat itu, kita akan menopang dagu, bahkan merenung tentang makna kehidupan. Berdua. Hanya kita.
Iya. Saat itu aku menangis sambil memeluknya kuat-kuat. Aku bisa merasakan tubuhnya yang ringkih gemetar hingga sesak. Ia begitu rapuh. Dan aku melihat pendar sorot matanya yang memuai. Begitu bening hingga aku mampu membaca hatinya yang selama ini ia bentengi dengan sepi tak bertepi. Cadas itu luruh dalam pelukku. Ia serupa bayi dalam buaian. Begitu lembut dan rapuh. Sekali lagi, aku menyebutnya Pengelana Sepi. Ia berjuang untuk menjadi kuat dengan kesendirian. Bahkan mampu menjadi kuat melebihi aku. Perempuan itu. Perempuanku. Seorang Pengelana Sepi.
#
Ah—aku tak ingin yang lain kecuali pulang, tuhan. Telah lama kutinggalkan berjuta keinginan dalam temaram. Biar lekat melumat habis dalam samudera samsara. Aku tak ingin lagi peduli. Meski angin mengikisku dalam gigil, hirauku telah lama pergi. Aku tahu ia sempat gusar dan membujuk rayuku di persimpangan. Duh, sungguh logika dan hati tak mampu membuat kesepakatan apapun. Aku tetap pada jalanku.
Kini, jangan lagi tawarkan dahaga tak berbatas itu. Aku hanya takut ketika bahagia datang. Karena itu adalah akhir perjalanan. Aku tak akan berhenti mempertanyakan itu. Pun kamu yang membuatku rindu hingga gagu dan cinta hingga buta. Tak akan ada yang luput dari tanyaku. Sekalipun para malaikat bersayap yang bersembunyi di antara nadir.
Sheera menuliskan itu pada kaca jendela yang mulai berembun kala riak hujan mulai tergenang di antara rerumputan. Ya—hujan yang sama seperti siang tadi ketika kamu baru saja datang.
Sheera. Perempuan berkulit kuning langsat. Suka sekali dengan hujan. Sekalipun ia sangat kecewa jika hujan datang pada senja. Karena itu akan membawanya pada rindu yang usang. Sungguh ia hanya akan melipat tubuhnya bersandar di tepi bingkai jendela.
Bulir hujan bercampur debu menghias kaca jendela dan secangkir kopi yang masih mengepul menyeruak dekat jemari kaki kecilnya. Sheera tenggelam dalam dunianya sendiri. Mungkin kamu akan bilang ia seorang perempuan yang terlalu apatis. Manusia yang egois karena bahagia sendirian. Tidak. Ia tak seperti yang kita lihat. Dalam hatinya, ia berperang memaknai hidupnya untuk orang lain.
Lihatlah ia sekali lagi! Bola matanya yang coklat tak pernah berhenti mencari. Ia perempuan yang haus dengan jawaban. Kamu akan kualahan mendengar berjuta tanya dari bibirnya yang tampak malas bicara. Bahkan bulir hujan yang tak sengaja membentur kaca jendela pun akan menjadi tanyanya.
Ah, Sheera hanya perempuan biasa. Bahkan sangat biasa sebagai manusia. Ia juga tak lugu dan sebersih melati. Tapi ia tak suka kebohongan, walau tak sekali ia sadar telah dibohongi. Tapi tak marah ketika satu-per-satu orang di sekitarnya pergi setelah mencuri beberapa ilmu dari koper benaknya.
Sekali lagi, sekalipun ia tahu mereka pergi sembari membawa apa yang dicuri darinya. Sekalipun mereka pergi sembari berkata miring tentangnya. Tapi sungguh ia tak murka. Karena baginya semua itu hanyalah bagian dari halaman buku perjalanan yang bernama 'kehidupan'.
Di antara gemiricik hujan—di antara sesumbar dingin, Sheera berceloteh pada hujan: "Ada yang bertahan hidup dengan menjual seks, ada yang bertahan hidup dengan cara pura-pura lemah akal, ada yang bertahan hidup dengan cara menunjukan kekuatan akalnya juga kekuasaannya, ada yang bertahan hidup dengan kelemahan sakitnya dan berbagai permohonan toleransi pada proses, ada yang bertahan hidup dengan semua celah itu untuk menjadi pemenang, dan bahkan ada yang bertahan hidup dengan cara berjuang untuk tak hanya sekadar hidup."
Lalu ia kembali diam. Seperti kamu yang juga diam dan bertanya pada dirimu sendiri. Iya, ia pun mempertanyakan itu pada dirinya sendiri. Begitu juga aku.
"Pada bagian yang manakah kita? Sungguh, pada bagian mana kita adalah sangat tidak penting, jika kita tak pernah tahu apa sejatinya 'hidup'." Sheera meneguk kopinya yang masih mengepul. Ia tersenyum ketika keterlekatan melekat di antara indrawinya. Karena keterlekatan itu telah ia lepas bersama kesadarannya . Ia benar-benar telah mencapai bahagia.
Sungguh kita masih bisa melihatnya duduk sendiri di tepi jendela. Namun kita hanya mampu menghiraukan kayu yang bergemeletak di antara kaki-kaki kita yang dingin. Satu-satu panas menjadi riuh dan nyaring. Jangkrik di luar pun mulai berparade dalam simponinya.
***
Sukamara, February '12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar